BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Sunday, 15 February 2009

Mengapa harus impor?

Orang bilang negara kita adalah negara yang subur dan makmur, yang sawah dan ladangnya dimana-mana. Indonesia bisa dibilangnegara agraris, dengan begitu mata pencaharian terbesar penduduk kita adalah bertani. Dengan melihat fakta-fakta tersebut, seharusnya Indonesia tidak membutuhkan kadar impor bahan pangan yang besar dari luar negeri. Lalu apa sebabnya Indonesia masih harus membeli bahan pangan dari luar negeri?

Tercatat ada tiga bahan pangan yang ternyata banyak diimpor dari luar. Yang pertama yaitu beras. Tahun 2008, Indonesia mengimpor beras dari Vietnam sebanyak 520 ribu ton. Hal ini disebabkan negara kita hanya bisa menghasilkan setengah dari target per tahunnya. Pemicu lainnya karena adanya imbas buruk dari efek global warming (wah.. parah banget iya)! Sehingga sebagian panen mengalami kegagalan hasil produksi beras lokal dan tidak bisa memenuhi kebutuhan nasional.

Daging sapi adalah komoditas yang kedua. Ternyata daging sapi lokal masih kalah bersaing dengan sapi impor dari Australia. Sapi lokal ternyata juga lebih susah gemuk dan membutuhkan peralatan yang rumit, sedangkan teknologi kita masih terbatas.

Yang terakhir adalah jagung. Masalah klasiklah penyebabnya (yang tidak jauh-jauh dari masalah kebutuhan nasional yang tidak mencukupi). Sekarang ternyata jagung juga digunakan sebagai bahan dasar bahan bakar biodiesel. Akhirnya makin berkurang pula produksi jagung kita.


Masalah terberat yang negeri kita hadapi (selain masalah korupsi dan masalah berat lainnya) ternyata adalah produksi pangan yang tidak sesuai target dan karena sedang maraknya penggunaan energi biofuel (energi biofuel adalah energi yang dihasilkan dari tanaman seperti kelapa sawit dan jagung) yang dijadikan prioritas utama oleh pemerintah saat ini. Efek sampingnya, kebutuhan pangan jadi dinomor duakan.




Sumber: Majalah Gds

F.T Island-Jump Up (Mini Album)


Setelah berjam-jam mencari di salah satu Link diseberang sana (yang sering saya kunjungi),sebut saja LI.Hehehe.. Akhirnya saya dapat mini album F.T Island Jump Up! Ahh.. senangnya! Meskipun harus capek-capek mendownload dan menghabiskan banyak memori, tapi saya ikhlas melakukan itu semua. Demi mendengarkan karya-karya mereka yang keren sekali itu.

Bagi kalian para Primadonna yang mengaku cinta dengan F.T Island. Harus dengar album mereka yang baru ini iya. ^^

F.T Island Jump Up (Mini Album)

1. Bad Woman

2. Like a Doll

3. Magic

4. Missing You

5. You and I

6. What Can I Do?

Bagi yang ingin mendownload tinggal klik save target as.
Selamat menikmati. >.<

Sunday, 8 February 2009

Fiuhh.. Akhirnya F.T Island bikin MV terbaru mereka. Judulnya Bad Woman. Disini mereka tampil dengan member barunya Song Seung Hyun . Setelah mereka ditinggal pergi oleh Wonbin, ternyata F.T Island mengubah style mereka, mulai dari fashion sampai rambut mereka. Beda banget style mereka di album-album sebelumnya. Mereka tampak fresh, sunguh senang melihat perubahan ini. Tapi saya sedikit terganggu dengan gaya rambut Choi Jong Hoon (tenang Jong Hoon, saya masih tetap mihak kamu kok.^^)


MV baru ini menceritakan tentang seorang play girl yang diperankan oleh Seo Hyo Rim dengan 5 kekasih yang diperankan oleh anak-anak F.T Island sendiri. Disini mereka banyak beradegan tangis-menangis (hehehe). Saya terkaget begitu melihat adegan Jong Hoon yang saya kira ingin meng-kissu sang model (aihh..).

Karena ada sedikit problem, saya tidak bisa menampilkan MV-nya di blog ini. Kalian bisa melihat MV-nya disini. Mari kita dukung F.T Island dengan formasi yang baru. F.T Island, hwaiting! ^^



Cerpen yg terinspirasi dari Black Interview

Pusing tujuh keliling. Itu yang saya rasakan sekarang. Tugas sekolah yang tak terkira jumlahnya berhasil membuat saya menjadi seperti ini. Saya senang sebenarnya karena salah satu tugas tersebut adalah salah satu mata pelajaran yang saya suka, yaitu Bahasa Indonesia. Iya saya disuruh membuat karangan cerpen. Tugas Kimia berjimlah 50 soal dan harus dikerjakan dikertas folio yang hitung-hitungan semua itu yang membuat saya mengeleng-gelengkan kepala.

Hei, apa kalian tahu? Tugas cerpen yang saya buat,terinspirasi dari buku Black Interview karya Andre yang keren banget itu. Judul cerpen yang saya usung adalah Jakarta,100 Tahun Kemudian. Oke.. Aku ingin share sama kalian tentang cerpenku ini.Kasih post comment iya, menurut kalian bagaimana dengan karangan cerpenku ini. Bilang saja yang sejujurnya, bagus atau tidaknya. ^^

Jakarta, 100 Tahun Kemudian

Kubuka mataku kuat-kuat, pagi itu terasa amat dingin setelah hujan deras melanda Jakarta semalaman. Inginku tarik selimutku kembali dan memejamkan mata melanjutkan tidurku. Tapi aku teringat akan janji untuk menemani kakak sepupu laki-lakiku dari Korea yang sedang berkunjung ke Jakarta sejak dua hari yang lalu. Dia memintaku menemaninya berkeliling ke kota tua. Meskipun di Sabtu pagi ini langit masih memendung, tetapi tidak mengurungkan niat kak Kyuhyun keliling Jakarta.

“Ayo Keny, kita harus berangkat sekarang. Besok Oppa1 tidak bisa dan lusa harus sudah pulang ke Kyongju”, katanya dengan Bahasa Indonesia yang kurang lancar dan logat Koreanya yang kental. Maklum, dari kecil sudah besar di Korea dan hanya belajar Bahasa Indonesia dari Ayahnya.
“Iya Oppa, tunggu sebentar aku siap-siap dulu.”, setengah berteriak.
Saat sedang bersiap-siap, handphoneku berdering, melantunkan lagu Hikayat Cinta-nya Glen Fredly dan Dewi Perssik. Spontan aku terkaget. Terlihat nama Marsya dilayar handphone. Klik.
“Iya Marsya ada apa?”, tanyaku dengan posisi handphone terapit oleh telinga dan bahu.
“Ada apa.. ada apa.. Kamu sekarang ditunggu ketua baseball dan anak-anak di lapangan. Memangnya hari ini kamu nggak ikut latihan gabungan ke SMA sebelah?”, kata Marsya dengan suara cemprengnya.

“Astagfirullah.. Marsya! Aku sampai lupa kasih tahu kamu, kalau aku nggak ikut. Tolong bilangin ke Kak Beny iya, soalnya aku harus nemenin sepupuku dari Korea keliling Jakarta.”
“Oh.. Kak Kyuhyun yang waktu itu kamu certain? Oke, nanti aku sampaikan. Titip salam iya buat sepupu kamu yang tampan itu. Have fun, Ken!”
“Iya terima kasih Marsya. Dah..”. Klik.

Semua telah beres, aku langsung menuju teras depan rumah. Kak Kyuhyun sedang menunggunya disana, berdiri, sambil menyandarkan punggung- nya ditembok. Sekilas aku merasa aneh dengan gaya dandanan Kak Kyuhyun, sangat rapi dengan dandanan ala laki-laki macho Korea. Dan barang bawaannya, dari camera digital, handycam, sampai notebook-nya. Aku terus memandangnya dari atas sampai bawah, lalu mengerutkan kening.


“Kyuhyun Oppa, kita ini mau pergi ke kota tua bukannya mau pergi pesta. Dandanannya rapi sekali dan ini barang bawaan Oppa banyak pula”, kataku yang akhirnya memberikan komentar


“Iya tidak apa-apa. Siapa tahu ada perempuan Jakarta yang suka denganku. Kalau barang-barang ini, untuk mengambil bukti dan menulis sesuatu jika aku menemukan hal yang menarik. Semua ini demi tugas karya tulisku. Kan seperti pepatah Indonesia yang satu,dua pulau…nggh..tiga pulau terlampaui”, dengan ekspresi seperti orang yang sedang berfikir keras. Aku tertawa melihatnya.

“Yang benar.. sekali dayung, dua,tiga pulau terlampaui Oppa!”
“Iya itu yang oppa maksud. Kap shida
2, Keny”


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, kami belum juga sampai. Terhitung sudah lebih dari dua jam kami berkutat disepanjang jalan beraspal dengan mobil Avanza milik ayahku. Rasanya ini macet yang ketiga kalinya yang kami lewati disepanjang perjalanan. Iya, kami sekarang terjebak macet, karena ada Mahasiswa yang sedang berdemo, juga sedang ada perbaikkan jalan. Bagi warga Jakarta, pemandangan ini menjadi suatu hal yang biasa. Sungguh ironis memang Jakarta kita ini.


Karena tempat tujuan pertama kami yaitu di Museum Fatahilah masih lumayan jauh, kami mengisi senggang waktu dengan bertukar cerita dan sesekali bercanda. Dan acap kali aku menjadi seorang Guide dadakan yang menunjuk dan memberi tahu mana yang namanya gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Universitas Indonesia dan gedung mana pun yang kami lewati sepanjang perjalanan. Tak jarang pula Kak Kyuhyun membidik camera digital yang dibawanya dan mengatakan sesuatu hal yang aku kurang menengerti tentunya dalam Bahasa Korea. Pak Kosim, supir ayahku sampai tersenyum-senyum sendiri didepan.


Sesampainya di kota tua, aku menyuruh Pak Kosim memarkir mobil dan kami pun langsung menginjakkan kaki ke Museum Fatahilah. Berkeliling kesana-kemari. Kupandangi semua benda yang ada didalamnya satu per satu. Benda-benda yang terpajang disana memang terlihat tidak asing bagiku. Karena dahulu saat aku masih kecil Ayah dan Bunda suka mengisi hari liburan untuk pergi ke kota-kota tua di Jakarta. Daripada menghambur-hamburkan uang berbelanja di Mall lebih baik belajar mengenal sejarah Jakarta, demikian kata Ayah.


Kulirik jam yang ada ditanganku. Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Kak Kyuhyun menunjukkan jari telunjuknya kearah Museum Wayang, sepertinya dia ingin kesana. Saat berjalan menuju Museum Wayang, tiba-tiba hujan angin turun dengan lebatnya dan iringan suara petir yang menggelegar. Kami panik, dengan segera kami berlari mencari tempat berteduh. Lalu menunggu sampai hujan reda.


“Keny, Pak Kosim dimana? Sudah terlalu lama kita menunggu, tapi hujannya belum berhenti pakaian kita sudah sangat basah. Lebih baik kita kembali ke mobil.” Kak Kyuhyun tampak menggigil. Iya juga iya kenapa tidak terpikirkan olehku untuk menghubungi Pak Kosim? Aku meraba-raba seluruh isi kantong dicelana, mencari handphoneku.
“Celaka! Aku lupa membawa handphone.Bagaimana ini Oppa?” Aku panik.
“Aku juga tidak membawa handphone. Keny coba lihat kesana, itu tempat telepon umum bukan?” Matanya seakan berbinar begitu melihat telepon umum kotak kaca yang berwarna keabu-abuan diseberang sana. Tanpa pikir panjang, aku langsung menarik tangan Kak Khuhyun dan menuju ke telepon umum kotak kaca tersebut.

Ketika memasuki telepon umum itu, kami merasa aneh. Tak ada telepon didalamnya, lalu bagaimana bisa dibilang telepon umum? Kami merasa tertipu dengan penampilan luarnya benar-benar mirip dengan tempat telepon umum. Yang ada hanyalah tiga buah tombol berwarna merah yang teramat aneh. Kak Kyuhyun mengerutu,”Telepon zaman apa ini, aneh sekali? Di Korea belum ada yang seperti ini, bisa dibawa pulang tidak iya?”.


Rasa penasaranku akan tombol-tombol aneh ini muncul perlahan. Dengan sengaja aku memencet tombol-tombol tersebut. Seperdetik kemudian, cahaya yang amat kilau datang dan seakan-akan menarik tubuh kami. Setelah sadar dari apa yang bisa kami sebut sebagai mimpi, kami kembali terkejut melihat sekeliling kami.


“Tempat apa ini Keny?” tanya Kak Kyuhyun.
“Entahlah Oppa, tempat ini sangat aneh. Lebih baik kita bertanya saja.”
“Awas Oppa!” teriakku sambil mendorong badannya. Alhasil kami jatuh
tersungkur. Hampir saja kami tertabrak oleh benda yang lebih mirip dengan piring terbang orang luar angkasa dan ternyata jumlahnya puluhan mungkin ratusan! Berterbangan tak karuan, mungkin ini alat transportasi umum mereka. Orang-orang tampak sibuk dengan notebook hologram-nya atau dengan telepon genggam yang sangat mini dan berhologram pula.


Di arah tenggara dari tempat kami terjatuh tadi. Kami melihat sebuah etalase besar yang bernuansa modern bernama “Toko Peralatan Berdemo”. Disana pengunjung bergerombol untuk membeli, terlihat sangat anarki dan ribut. Salah seorang wanita setengah baya dan anaknya yang tengah didalamnya terjatuh dan terinjak-injak badannya akibat berdesak-desakan. Tapi yang lebih mengherankan lagi tidak ada yang menolong atau setidaknya meras iba. Semuanya terlihat acuh tak acuh. Oh Tuhan.. Dimanakah sebenarnya kami berada?


Kak Kyuhyun berjalan menuju sudut jalan sana, aku mengikuti. Belum sempat kami bertanya dengan warga setempat, kami melihat ada papan layar sentuh bertuliskan “Selamat Datang Di Jakarta. Warga Jakarta Teguh Beranarki” dan tepat diseberang kanan persimpangan jalan ada papan kecil berhologram bertuliskan huruf kapital “SELAMAT TAHUN BARU 2109”. Alangkah terkejutnya kami, dan hanya bisa berdiri terdiam saling berpandangan. Sekujur badan lemas seketika, lidah kami membeku, tak bisa berkata apa-apa.

1 Oppa adalah Bahasa Korea yang berarti kakak.
2 Kap shida = Mari pergi