Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti merdeka adalah bebas, lepas, dan tidak terjajah. Dengan kata lain arti kemerdekaan yang luas ialah berdiri sendiri, bebas dari belenggu oleh para penjajah, tidak tertekan dalam melakukan sesuatu hal serta mendapatkan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan tidak bergantung pada orang lain lagi.
Sejarah memang mencatat tindakan yang revolusioner tersebut. Tetapi rasanya semangat kemerdekaan itu kian memudar seiring terbawanya zaman. Meskipun kini kita berada di era serba perak alias milenium, tidak banyak yang mengindahkan keharuman dari bunga kemerdekaan.
Kemiskinan, pendiskriminasian, kriminalitas, korupsi dan kenyataan pahit lainnya masih menggandrungi tubuh Republik Indonesia. Seakan tujuan Negara yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pada alinea ke-4 belum berhasil dijunjung.
Tujuan Negara Indonesia dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke-4, yang dirasa belum diindahkan yakni yang pertama, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kalau kita sadari, perilaku menyimpang berhubungan dengan perlindungan bangsa Indonesia banyak terjadi. Para TKI bekerja di luar negeri sering mendapat tindak kekerasan dari majikannya.
Kesadaran akan pentingnya menjunjung Hak Asasi Manusia (HAM) yang didapat sejak lahir juga masih rendah. Esensi dari setiap perumusan peraturan tentang HAM didalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28A sampai dengan 28J enggan berjalan dengan semestinya.
Kedua, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Contoh konkritnya kelaparan merajalela di pinggiran kota, padahal Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia sangat memadai, tanah dan laut pun kita kaya dibandingkan Negara-negara lainnya.
Tingkat korupsi juga sudah mencapai kekronisan. Entah yang hanya seorang rakyat biasa hingga petinggi-petinggi Negara, semua menanamkan perilaku korupsi di kehidupannya. Mengakibatkan kaya semakin kaya, miskin semakin miskin.
Kurangnya kesadaran, membuat kita terkadang tidak peka terhadap lingkungan. Egoisme pun datang dan semua jadi semau jidat saja. Sekarang kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan? Para pahlawan yang memerdekakan Indonesia dan telah gugurkah yang disalahkan? Para petinggi-petingi Negara kah? Atau para generasi-generasi muda yang kiranya akan meruskan perjuangan bangsa?
Sumber Foto: http://yesiamhafidz.files.wordpress.com, 


