BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Wednesday, 28 April 2010

Rana Macrodon

Sebenernya di new post baru ini mau share aja tentang katak. Sedih deh rasanya kehilangan makhluk kecil ini. Katak hijau bernama latin Rana Marcodon ini harus pergi meninggalkan gue dan kawan-kawan(?). Sebenernya yang paling sedih iya gue! Karena sebelum praktikum gue yang bertugas membawa Rana bersaudara itu *tadinya sepasang*
di dalam sebuah gelas yang atasnya diberi plastik bening dan dicelahi agar lebih mudah bernafas.


Dan pada suatu malam yang dingin,gue sengaja naro mereka di dalam kamar takutnya ada apa-apa. Pas pagi-pagi buta sebelum berangkat sekolah gue kaget setengah mati seperti baru aja ngeliat hantu. Ternyata eh ternyata katak yang satunya hilang dan plastiknya bolong sebesar telunjuk tangan. Panik dong,gue lantas menelpon temen sekelompok. Bodohnya adek gue sempet ngeliat katak itu *duh kenapa gak bilang-bilang sih?* tapi gak mau bilang karena dia ternyata takut katak*-.-*... Alhasil gue dan kelompok hanya praktikum dengan satu katak. Semua tampak tak percaya,kok bisa katak bisa lolos ? Hmm kira-kira katak hilang itu dimana iya sekarang? Apa masih dikamar gue? *serem serem*



Monday, 26 April 2010

Atas nama popularitas

Atas nama popularitas

Berdiri teguh jiwa yang kokoh

Kekuatan dan keinginan keras berpadu

Memadu menjadi bangunan berpilar keangkuhan

Atas nama popularitas

Aspek kehidupan dicampur tangankan

Kepentingan diri mendahulu

Beribu tangan melintas teracuhkan

Atas nama popularitas

Kalbu suci itu mati rasa

Tak lagi membeda-beda

Antara hak dan kebatilan

Atas nama popularitas

Manusia menjual kekuasaan

Menukarnya dengan koin-koin perak

Yang dioper dari pasokan perut jelata

Atas nama popularitas

Pintu kejayaan membentang luas

Tapi enggan meluaskan jendela etiket

Jadilah hina atas nama popularitas

Atas nama popularitas, seluruh idealis diri terpatahkan!


Wednesday, 21 April 2010

Suara kesendirian..

Sendirian? Ah tidak juga.. Aku ditemani alunan piano sebuah soundtrack drama kesukaanku. Dan lumayan memberikan efek tak jenuh. Fikir ini melayang jauh,ketika melodi itu berdenting hebat di gendang telingaku. Begitu jauh.. seperti dirimu berada di tengah-tengah ladang ilalang yang menjulur tinggi dan jemarimu meraba ilalang dengan lembut.

Disana kau bisa melihat populasi kupu-kupu cantik terbang disemak-semak. Awan-awan columbus bertebaran di antara langit biru. Binatang kesayanganmu pun berlari kesana kemari,mencoba mengajakmu bermain. Saat terlelah,kau bisa tidur di permukaan tanah sambil menghela nafas. Bukan karena terlalu lelah,tapi merasa nyaman dengan suasana yang tercipta. Meski kala itu mentari bersinar dengan terangnya, tak sedikit pun mengurangi kenyamanan ini. Tenang,kau bisa tersenyum dengan leluasa. Iya dengan leluasa! Seperti melepaskan separuh gumpalan penat dipori-pori tubuh.

Ah ternyata musik telah membawa suara kedalam kesepian malam ini. Suara seper sekian menit itu berhasil membangkitkan aura positif di sinaps-sinaps ku. Merasa lebih baik tentunya. Begitulah aku menghibur diri.

Tuesday, 20 April 2010

Mati rasa..

Pernahkah kau merasakan menangis dikala tingkat marah memuncak? Saat itu tak ada lagi tenaga untuk menyalurkan amarah sehingga yang kau lakukan hanya bisa tertunduk menangis di penghujung malam.

Ataukah tertawa dengan bersemangat ketika kesedihan melanda? Dengan iringan lelucon-lelucon yang memang tidak lucu,membuat mata sipit ini terus membentuk bulan sabit. Tertawa terpingkal-pingkal sampai memerahkan mukamu? Padahal hati suci itu sedang teriris-iris hingga kau sendiri tak tahu bagaimana bentuk hati itu sekarang.

Atau mungkin marah saat orang lain menampakkan kebahagiaan di cahaya matanya yang berbinar-binar? Marah karena merasa jijik dengan keindahan kerlipan cahaya mata itu. Seperti bau kedengkian karena tak bisa menjamahnya lagi.

Jika iya.. mungkin kau sudah mati rasa. Sistem rasamu sudah tak bersinyalir dengan saraf-saraf berjulur. Mati berarti tak lagi berada pada tempat yanng sebenarnya. Salah menempat rasa karena rasa mu tak pernah diberi pelajaran perasa. Jadilah mati rasa!

Sebuah donat cinta-Nya

Cinta adalah suatu anugerah yang diberikan Allah kepada seluruh umat manusia. Seperti pohon,cinta berkembang dan tumbuh hingga menuai banyak buah maupun bunga indah. Daya tarik menariknya begitu kuat tetapi banyak orang salah persepsi mengenai arti cinta yang begitu luas cakupannya.

Seorang cucu Rasulullah,Ali yang masih kecil pernah bertanya kepada ayahandanya. “Apakah ayah mencintai kakek (yakni Nabi Muhammad SAW)?”, “Apakah ayah mencintai ibu (yakni Fatimah,anak dari Nabi Muhammad SAW)?”, dan “Apakah ayah mencintaiku?”. Ayahnya menjawab ketiga pertanyaan itu dengan singkat,”Iya aku mencintai semuanya”. Ali pun bingung,terhadap jawaban ayahnya. Bagaimana bisa ayahnya membagi cintanya itu? Apakah apabila kita mempunyai sebuah donat bulat dan membaginya dengan orang yang kita cintai,akankah diberi potong per potong hingga habis tak tersisa?

Bukan.. bukan seperti itu. Cinta seharusnya kita maknai dengan cinta bedasarkan Allah agar cinta yang kita jaga diridai oleh-Nya. Karena cinta yang kita kenal merupakan percabangan dari cinta-Nya. Sepotong donat itu bisa tetap terjaga,dengan didasari oleh bungkus cinta Allah. Apabila kita mencintai Allah,berarti patut kita mencintai semua makhluk-Nya. Cinta orang tua karena Allah,cinta teman karena Allah,cinta saudara-saudari kita karena Allah. Itulah cinta yang sesungguhnya. Seperti aku,juga berusaha mempelajari dari analogi donat.