Jakarta sebagai ibukota Indonesia, memang tiada habisnya dibahas dan disorot oleh semua kalangan karena berjuta persoalan yang melandanya. Salah satunya yaitu mengenai banjir yang menyebabkan kerugian materil dan terkadang bisa merenggut nyawa.
Banjir sepertinya sudah menjadi makanan pokok di Jakarta setiap tahunnya. Beberapa tahun belakangan Jakarta selalu dilanda banjir. Tidak hanya melanda daerah yang datarannya rendah atau perkampungan, tetapi juga perkotaan dan memasuki hotel-hotel mewah. Beberapa daerah rawan banjir besar tiap tahunnya meliputi, Kampung Melayu, Kampung Pulo, Kampung Makasar, dan Kayu Manis.
“Biasanya kalau disini banjir diprediksikan datang setiap 5 tahun sekali, tetapi sekarang banjir terjadi setiap tahun. Bahkan kalau hujan deras turun dalam kurun waktu yang cukup lama, air kali langsung cepat meluber ke jalan,” kata Pak Narto, ketua RT Kampung Makasar Jakarta Timur, yang wilayahnya selalu rutin terkena banjir.
Apa yang menyebabkan Jakarta menjadi kota banjir? Sebenarnya bencana banjir di Jakarta tak cuma disebabkan curah hujan yang tinggi, tetapi lebih oleh kesewenangan manusia. Lihat saja masih banyak orang yang seenaknya buang sampah, dari rakyat jelata sampai pejabat bersedan mewah.
Mencari penyebab banjir, surat kabar harian Algemeen Dagblad berpendapat, penyebabnya yaitu pembangunan berlebihan yang menimbulkan ibukota ambles dan pembangunan vila-vila di bukit sekitar Bogor menyebabkan air hujan dengan cepat mengalir ke Jakarta. Yang tidak kalah seriusnya adalah pertumbuhan kota yang tak terkendali. Pada tahun 1985, sekitar 10% tanah Jakarta dibangun, 20 tahun kemudian pada tahun 2002, pembangunan sudah mencapai 70%.(wordpress.com)
Hal ini membuat adanya penurunan tanah (land subsidence) tiap tahunnya mencapai 3-5 cm per tahun, dikarenakan juga oleh penyedotan air tanah terus menerus. Ini menjadi bukti hilangnya ekologi di Jakarta. Kawasan konservasi air yang seharusnya melindungi Jakarta dari bahaya banjir tidak ditemukan lagi karena dijadikan pemukiman, pusat perkantoran dan pusat perbelanjaan.
Dulu pemerintah Belanda pernah mencoba mengatasi banjir di Jakarta dengan membangun kanal yaitu pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT), awal abad ke-20. Kanal tersebut dibangun dengan tujuan mengalirkan air. Solusi ini memang berhasil dan mampu membuat Jakarta bebas banjir paling tidak selama 20 tahun: 1990-1940.(www.kompas.com)
Dan saat pemerintah Belanda masih menginjakan kaki di Jakarta, warga dilarang mendirikan gedung atau membangun rumah yang berada di daerah rendah dan dekat bantaran sungai. Kalau ada yang nekat membangun rumah pemerintah langsung mengenakan sanksi dan membongkar paksa bangunan tersebut. Kalau sekarang uang bisa membeli perubahan.
Kondisi geografis Jakarta yang merupakan dataran rendah dilalui oleh 13 sungai, topologi Jakarta yang 40 persennya berada dibawah permukaan laut dan air laut yang terus naik setiap tahun karena pemanasan global juga merupakan sebagian faktor yang membuat Jakarta menjadi langganan banjir.
Menurut para ahli pemerhati lingkungan, Jakarta bisa terus tenggelam karena keseimbangan alam sudah dirusak oleh kebijakan PEMDA DKI yang mengijinkan reklamasi pantai Jakarta untuk daerah hunian dan pembabatan hutan mangrove (bakau) demi kepentingan para pembisnis dalam menjadikan pantai Jakarta sebagai tempat hunian. Padahal tempat itu tempat penyimpan air dan penyagga pasang laut. (www.detik.com)
Sekarang, tergantung anda mau merubah Jakarta menjadi kota bersih, asri dan hijau atau menjadikan Jakarta kota gersang, panas dan banjir.(KLN)
AHOF Luncurkan Video Performance ‘Sugar High’
4 hours ago


1 komentar:
jgn sedih....emang tuh banjir udh merajalela di indonesia,apalg jakarta....sabar ya kar,klo lg musim hujan....badai pasti berlalu(cieelah...)
Post a Comment